NAMAGRAPH DIGITAL STUDIO

Professional Graphic and Web Design


lihat galeri desain kami :
desain website, brosur, leaflet, sticker, spanduk, sertifikat, kartu nama, kemasan produk, cover buku, undangan, banner, pin, kalender, kartu ucapan, poster, pamflet, name tag, baliho, map, pembatas buku, logo, cover CD, kaos



















beringinSalah satu ciri kota-kota tua di Pulau Jawa adalah keberadaan alun-alun yang berada di pusat kota. Pada kawasan alun-alun tersebut, biasanya terdapat pohon beringin. Berada dibawah pohon beringin saat siang hari mampu memberikan kesejukkan bagi yang berada dibawahnya. Sehingga bukan pemandangan aneh bila di bawah pohon beringin sering dijadikan sebagai tempat untuk istirahat warga kota. Mereka tidak perduli dengan suara ramai dan panas disekitarnya, karena telah mendapatkan kenyamanan di bawah pohon yang rindang dengan ditemani suara burung yang berkicau.


Pohon beringin merupakan salah satu pohon yang sangat kharismatik bagi budaya masyarakat Indonesia. Sehingga pohon ini sejak zaman dahulu selalu ditanam di pusat kota sebagai salah satu simbul kekuasaan yang mengayomi warganya. Bahkan pada masa orde baru pohon tersebut dijadikan sebagai lambang untuk partai berkuasa di Indonesia. Bahkan pohon beringin merupakan salah satu lambang yang ada dalam Pancasila yang merupahkan falsafah Negara Indonesia.

Pohon beringin atau dalam bahasa latin bernama Ficus sp. merupakan tanaman dari famili Moraceae. Ficus merupakan marga terbesar Famili Moraceae yang banyak dijumpai di Indonesia, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Ada sekitar 1000 jenis Famili Moraceae, setengahnya adalah Ficus. Tanaman ini berupa pohon yang bisa mencapai tinggi 35 meter, tumbuh di tanah dan ada yang bersifat hemi-epifit.

Beringin merupakan tanaman yang memiliki kemampuan hidup dan beradaptasi dengan bagus pada berbagai kondisi lingkungan. Selain itu keberadaan tanaman beringin pada kawasan hutan bisa dijadikan sebagai indikator proses terjadinya suksesi hutan. Beringin juga merupakan tanaman yang memiliki umur sangat tua, tanaman tersebut dapat hidup dalam waktu hingga ratusan tahun.  

Tanaman beringin memiliki kemampuan sebagai tanaman konservasi mata air dan penguat lereng alami. Hal tersebut dapat dilihat dari struktur perakarannya yang dalam dan akar lateral yang mencengkeram tanah dengan baik. Selain itu, jenis-jenis beringin memang diketahui sebagai habitat beberapa burung, reptilian, serangga dan mamalia yang mengkonsumsi buahnya. Jadi, dengan menanam beringin, secara tidak langsung juga akan mengkonservasi fauna yang menjadikan beringin sebagai tempat hidupnya. Jenis tanaman Ficus juga dikenal sebagai tanaman untuk upacara adat di Bali dan sebagai tanaman obat. Beringin  juga memiliki kemampuan yang tinggi untuk menyerap polusi dalam hal ini CO2 dan timbal hitam di udara.  

Pada proses pembangunan kawasan hutan lindung di kawasan hutan produksi, beringin memiliki peranan yang cukup penting. Hal tersebut karena beringin memiliki nilai hidrologis, ekologis, budaya, religi dan keamanan kawasan hutan. Sehingga dalam pembangunan hutan lindung, beringin harus dimasukkan sebagai salah satu jenis tanaman yang perlu dikayakan pada kawasan tersebut. Pengkayaan jenis beringin akan dapat mempercepat proses suksesi kawasan hutan untuk mencapai kondisi klimaks.

Nilai Hidrologis


Beringin merupakan tanaman yang memiliki struktur perakaran yang dalam dan akar lateral yang mencengkram tanah dengan baik. Beringin merupakan salah satu jenis tanaman yang mampu menyimpan cadangan air pada musim penghujan dengan baik dan mengeluarkannya pada musim kemarau secara teratur. Hal tersebut banyak dijumpai di banyak tempat, dimana tanaman beringin selalu ada pada daerah-daerah yang merupakan sumber air. Sehingga beringin memiliki peran yang penting dalam menjaga kontinuitas ketersediaan pasokan air pada suatu kawasan baik pada musim hujan maupun kemarau.

Selain itu beringin dengan sistem perakaran yang kuat dan dalam merupakan tanaman yang mampu menjadi penahan erosi tanah. Beringin juga sangat efektif berfungsi sebagai penahan terjadinya tanah longsor pada daerah yang memiliki tekstur tanah yang curam.

Beringin merupakan tanaman yang mampu hidup di berbagai macam kondisi lingkungan yang ekstrim, salah satunya adalah diatas batu. Dengan akar yang kuat tanaman tersebut mampu mecengkram batu yang besar dan menahannya agar tidak jatuh ke bawah.

Nilai Budaya dan Religi


Beringin merupakan tanaman yang memiliki nilai budaya dan religi yang tinggi bagi masyarakat Indonesia. Keberadaan tanaman beringin pada suatu tempat biasanya selalu identik sebagai tempat yang memiliki daya magis yang tinggi. Beringin juga dijadikan sebagai tanaman suci bagi sebagian masyarakat Indonesia, terutama buat umat Budha dan beberapa aliran kepercayaan.

Dibawah pohon beringin yang berhawa sejuk, oleh sebagian masyarakat Indonesia merupakan tempat cocok untuk melakukan kegiatan-kegiatan ritual budaya. Sering ditemukan banyak aneka rupa sesaji diletakkan di bawah pohon beringin yang berukuran besar dan berusia ratusan tahun.  Pohon beringin dipercaya sebagai tempat bersemayamnya berbagai macam mahluk halus, sehingga banyak masyarakat menjadikan pohon tersebut sebagai tempat pemujaan.

Nilai Ekologis            


Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Sehingga ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya.            

Beringin (Ficus spp.) merupakan spesies yang memiliki nilai ekologi sangat tinggi peranannya pada kawasan hutan. Beringin selain berfungsi sebagai tanaman penjaga erosi tanah dan penyimpan cadangan air juga merupakan tanaman yang sangat disukai sebagai habitat satwaliar.

Beringin merupakan sumber pakan untuk beberapa jenis burung, serangga, reptilia, ampibia dan mamalia. Akar gantung pohon beringin merupakan tempat bermain untuk beberapa jenis primata. Selain itu beringin juga merupakan tempat bersarang untuk burung, reptilia dan mamalia.

Pada pohon beringin terjadi suatu interaksi biotik yang sangat komplek. Interaksi tersebut merupakan hubungan simbiosis mutualisme antara sesama spesies yang ada di situ. Sehingga oleh beberapa ahli ekologi, pohon beringin sering dijadikan salah satu indikator bahwa hutan yang bervegetasikan tanaman dari jenis Ficus spp. adalah hutan yang dalam kondisi klimaks atau dalam proses suksesi menuju klimaks.            

Pada kawasan hutan tanaman yang dibiarkan tumbuh secara alami tanpa bantuan manusia, pohon beringin akan tumbuh dengan sendirinya. Proses penyebaran beringin di alam merupakan peran dari satwaliar yang memakan bijinya. Biasanya satwa yang berperan besar dalam proses penyebaran beringin di alam adalah jenis burung pemakan biji dan primata.

Satwa tersebut memakan biji beringin, kemudian membuangnya melalui feces atau mulutnya di tempat yang berbeda dari tempat asal induk beringinnya. Biji tersebut akan berkecambah di tanah ataupun menjadi parasit pada tanaman lain (hemi-epifit).

Meskipun penyebaran beringin di alam dapat dilakukan oleh satwaliar, namun untuk mempercepat proses pembentukan hutan alam perlu dilaksanakan kegiatan pengkayaan jenis beringin. Proses penyiapan benih untuk kegiatan pengkayaan jenis beringin bisa dilakukan dengan cara menyemai biji atau dengan cara stek batang.

Nilai Keamanan Kawasan Hutan

           
Selain dianggap sebagai pohon suci oleh umat Budha, pohon beringin juga dianggap sebagai “pohon hantu” oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pohon beringin dipercaya merupakan tempat tinggal berbagai jenis mahluk halus. Masyarakat beranggapan bahwa dengan mengganggu beringin berarti mereka juga telah mengganggu mahluk halus yang ada di dalam pohon tersebut. Sehingga sebagian besar masyarakat tidak berani untuk mengganggu keberadaan pohon tersebut.            

Keberadaan pohon beringin mampu meningkatkan keamanan kawasan hutan tempat pohon tersebut berada. Hal tersebut dikarenakan keberadaan pohon beringin pada suatu kawasan hutan mampu meningkatkan daya magis untuk kawasan tersebut. Kawasan hutan yang bervegetasikan pohon beringin akan dianggap sebagai hutan yang angker. Bahkan tidak jarang kawasan hutan yang bervegetasikan pohon beringin dijadikan sebagai “hutan larangan” oleh masyarakat sekitar hutan. Hutan larangan merupakan kawasan hutan yang tidak boleh dimasuki secara bebas oleh masyarakat. Hal ini biasa muncul dari mitos-mitos atau legenda yang berkembang dalam komunitas masyarakat sekitar hutan.

Dengan status angkernya, masyarakat sekitar hutan biasanya akan merasa  takut untuk memasuki kawasan hutan yang terdapat pohon beringinya. Sehingga secara tidak langsung dengan tidak adanya masyarakat yang masuk kedalam kawasan hutan, maka kawasan hutan tersebut akan aman dari kegiatan perusakan hutan oleh manusia. Selain itu, beringin juga merupakan tanaman berkayu yang  tidak diproduksi sebagai bahan bangunan. Sehingga beringin tergolong tanaman yang tidak akan dicuri atau di tebang oleh para pencuri kayu.

Pengamanan hutan oleh hutan sendiri merupakan sebuah pola pengamanan hutan terbaik dan terefektif. Dengan pola pengamanan seperti itu, tidak akan terjadi konflik sosial atau korban jiwa dalam kegiatan pengaman hutan. Pengelola hutan juga akan sangat terbantu baik dari segi tenaga maupun biaya dalam kegiatan pengamanan kawasan hutan.

Melihat potensi keamanan yang besar dampaknya bagi kawasan hutan, sebenarnya pohon beringin selain bagus dikembangkan pada kawasan hutan lindung juga bagus di tanam pada kawasan hutan produksi. Pada kawasan produksi, beringin dapat dijadikan sebagai tanaman sela, tepi atau pengisi bagi tanaman pokok hutan. Selain berfungsi sebagai penjaga keamanan kawasan, beringin juga berfungsi sebagai tanaman yang mampu meningkatkan biodiversity pada kawasan produksi. (*)

Penulis: Biodiversity and HCVF Specialist
The Forest Trust

Sumber: www.kabarindonesia.com

Create Your ID Card

Create Your Calendar



Arie

Twitter Box

NDS Community